I’ll completely happy
Tak ada seorangpun yang ingin dilahirkan dalam kondisi tidak sempurna. Demikian juga aku. Aku sempurna secara fisik, walaupun hampir tidak pernah ada yang mengatakan wajahmu cantik, hidungmu mancung, kulitmu putih, matamu bagus, atau bibirmu seksi. Setidaknya hingga hari ini, walaupun secara kualitatif jauh dari penilaian publik yang bagus, secara kuantitatif, mataku masih dua, pun begitu dengan kaki dan tanganku. Jumlahnya masih lengkap. Aku juga tak pernah diriwayatkan memiliki penyakit kronis yang berarti. Cuma tipes, terakhir kambuhpun kalau tidak salah ingat saat aku masih kelas empat SD. Hingga saat ini, aku adalah gadis lincah yang jarang sakit bahkan punya prestasi lari-lari muter alun-alun kotaku dengan cukup gemilang. Hehe.
Lalu?
Pernahkah kau berfikir rasanya lahir di keluarga yang unik? Maksudku, mungkin kurang sempurna. Di usiaku yang sekarang aku seakan terbebani oleh dosa-dosa masa lalu. Ya, orang bilang aku ini anak haram. Ibuku keburu mengandungku duluan sebelum menikah dengan ayahku. Padahal, saat itu ayahku telah beristri bahkan memiliki 3 orang anak yang saat itu masih kecil- kecil. Ibuku pun begitu. Telah punya seorang anak laki-laki. Mas ku, satu-satunya saudara yang satu rahim denganku. Lemas membayangkan, dahulu ayah terpaksa meninggalkan istri pertamanya untuk memberikan pertanggungjawaban sebagai laki-laki pada ibuku. Aku terpaksa mengetahui cerita ini saat sudah kelas 1 SMA. Itupun budhe yang bercerita. Lalu apa masalahnya?
Waktu berlalu telah demikian lama. Air mataku pun telah kering. Tak bisa lagi menetes cengeng hanya untuk berpikir hal yang remeh temeh begitu. Tapi, bolehkah beralasan kalau aku ini perempuan yang berhak menangis kapanpun?
Kemarin bapak nelpon, aku disuruh pulang bawa motor. Pas kutanya buat apa, katanya buat nyari utangan di Koperasi. Masukin BPKB, Motornya harus dilihat sebagai tanda bukti. Spontan aku kemaren malah maki-maki, eh, ya ngomel sedikitlah di telpon. Tak habis pikir, kenapa bapak mesti hutang-hutang lagi begitu. Ndak pernah bisa hidup bebas lepas tanpa hutang. Dan ternyata kebiasaan itu terpaksa kuwarisi! Habis gimana lagi, jatah bulanan bapak hadirnya jarang-jarang, buat bertahan hidup aku terpaksa melakukan alternatif apapun asal halal. Akhirnya hari ini, masku ke Solo buat ngambil motor satu-satunya. Dicicilnya aja selama 6 taun. Hahaha!
Dan yang terjadi padaku kemudian cuma satu, iya, menulis… meluapkan apa yang kurasakan saat ini. Menjemput dari terminal, kemudian kuajak masku itu makan di SS depan kampus. Kutatap wajah yang sangat bersahaja itu. Dan aku makin sesak saja rasanya. Makin berharap, cepatlah lulus kau ini Lis. Aku pengen cepat kaya. Cepat ngasih uang ke bapak, ibu, masku.. biar hidup mereka tenang. Setidaknya punya modal buat modal usaha. Tapi jangankan bisa ngasih. Ngurus hidupku di Solo saja aku kewalahan. Kepala pusing mikir besok bisa makan atau enggak. Bahkan uang pangkal kuliahku yang 4 juta dulu, belum juga aku lunasi. Iya, aku minjem duit ke kakak kelasku, mbak Azizah namanya.
Bapak..Ibu.
Doakan aku kuat bertahan hingga lulus. Doakan saya sehat terus. Bapak Ibu juga sehat terus ya, sampai kutunaikan mimpiku untuk membawa kalian ke tanah suci. Tanahnya para shohabat. Bapak Ibu.. Hanya doamu yang kupinta, karena tiap pulang ke rumah, ketika teman-temanku pulang untuk mengambil jatah bulanan, aku pasti kembali ke tanah perantauan hanya dengan sebakul nasi dan lauk yang kau masak pagi-pagi sekali. Katamu, Bu. Biar aku bisa makan gratis sampai besok paginya.
Ya Allah.. sayangi orang-orang yang menyayangiku. Aku boleh menangis kan? Sebentar saja. Lima menit lagi, akan kuhapus air mataku dan mulai berlari lagi untuk menulis, untuk mengajar, untuk belajar, untuk sok-sokan berfikir tentang masyarakat, dan bangsa Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Terimakasih, telah memberikan sepuluh menit untuk berlunak pada diri yang lemah ini.
